Minggu, 27 Juni 2010

Jika Aku Berdiam

Dalam banyak kesempatan biasanya aku hanya berdiam, walau banyak dari orang-orang akan berlari meraih kesempatan itu. Tapi apa yang saya lihat bukan semuanya untuk apa yang ada jauh di hadapan saya. Namun apa-apa yang ada di sekitar saya.

Pernahkah seseorang mengikuti lomba lari lintas alam? Sayang sekali jika yang ada di pikiran hanya garis akhir dan hadiah yang mungkin dimenangkan bukan? Apakah kita tidak sempat melihat apa yang ada di sekitar kita ketika lomba lari itu?

Apakah kita melihat awan-awan yang bergumul di langit cerah, ranting dan dedaunan hijau yang tertiup angin lemah, gemericik air di sungai-sungai kecil, atau pun bentangan persawahan rakyat.

Apakah kita melihat ada seorang anak kecil yang terjatuh dari sepedanya, dan terluka. Apakah kita mendengar suara tangisannya? Apakah kemudian kaki kita terus berlari dan barlalu? Ataukah kita akan hadir sebagai kata penghiburan bagi tubuh kecil yang terluka dan malang itu dan meredakan tangis dan sakitnya?

Kita mungkin memiliki tujuan yang ada jauh di depan, namun ada hal-hal di sekitar kita, kecil mungkin dalam pandangan beberapa orang. Namun itu semua juga bagian dari kehidupan. Saya sering kali terdiam, karena jika saya bergerak, mungkin saja ada bagian dari kehidupan yang terlewatkan.

Senin, 21 Juni 2010

Dunia Yang Luas

Kurasa setiap langit sore yang cerah dapat membuat hatiku cukup terlepas jauh ke dalam kedalamannya sendiri. Aku bisa berhenti bertanya, dan hanya memandang dengan segenap hatiku.

Sudah lama aku sering tidak memedulikan perasaanku sendiri, mengubur diri dalam menjawab semua pertanyaan yang bahkan setelah terjawab akan dipertanyakan kembali.

Dunia ini luas, selalu dapat kusaksikan melalui langit sore yang membentang menyejukkan setiap relung perasaan dan menjadikan setiap asa berhenti meraung dalam kegelisahannya.

Dunia ini luas, banyak hal yang dapat ditemukan seorang insan di dalamnya. Bahkan hal-hal yang telah lama hilang. Sayangnya aku adalah seluruh keras kepala yang diperlukan untuk memunculkan kesempatan kedua. Bahkan tiada juga kuberikan pada diriku.

Dunia ini luas, namun aku telah berhasil menyempitkannya dalam ruang pikirku yang terlalu miskin.

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Minggu, 20 Juni 2010

Mencoba Publikasi Via Hotmail

Saya sekadar ingin tahu, apakah hotmail/livemail bisa melakukan publikasi ke blogger.com.

Mungkin pengiriman via surel ini adalah jawabannya :)

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com |
Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Senin, 07 Juni 2010

Lagu Bungan Sandat

Saat membaca beberapa tulisan di blog Mbak Santi, jadinya teringat dengan lagu lama yang sering terdengar saat saya kecil, walau mungkin sekarang sudah tidak pernah terdengar lagi.

Lagu “Bungan Sandat” (dalam bahasa Indonesia berarti bunga Kenanga, latin: Cananga odorata) mungkin adalah lagu yang tercipta di era 70-an saat saya belum lahir, saya tidak begitu menyukai lagu pop termasuk pop Bali, namun mungkin lagu ini adalah pengecualian saya :D

Bungan Sandat

Walau demikian, saya mungkin tidak memiliki alasan pasti mengapa saya menyukai lagu ini :)

Digg This

Sabtu, 05 Juni 2010

Maafkan Aku Hutanku…

Malam ini aku menulis sambil meneteskan banyak air mata, ah…, itu mungkin tampak sangat konyol, dan yang lebih konyol lagi aku menghabiskan berlembar-lembar tisu untuk menyeka air mataku…

Padahal tisu-tisu itu diproduksi dari alam, dari hutan…

Ah…, aku merasa sangat bersalah karena sudah menghabiskan sekian banyak pemborosan untuk alam ini. Padahal, seharusnya aku membantu menghemat pemakaian sumber daya alam, dasar memang tidak berguna.

Aku rasa aku harus tumbuh lebih kuat lagi, karena perasaanku masih sangat rapuh, walau mungkin celaka karena ternyata masa pertumbuhanku sudah habis waktunya kali ini…, ah…, bikin tambah rumitnya…

Tapi inilah enigmaku yang konyol…

Atau sebaiknya lain kali aku sediakan sapu tangan saja ya…

Digg This

Selasa, 01 Juni 2010

Sisipkan Satu

Aku tak pandai berpantun
Tak juga bersyair
Tangan-tanganku kosong
Seperti juga bait yang melompong

Mengapa ada harus
Ketika engkau tak suka
Apa hidup mesti ikut arus?
Walau kita tak pinta

Sajak itu jadinya hanya sepatu kuda
Ia selalu bilang sisipkan satu
Lebih parah lagi kaca mata kuda
Bagai pandangan selalu terpaku

Ah..., kau hendak berteriak
Tapi lidah bak terlindas gerobak
Tak sanggup bicara tentang akhlak
Hidup kotor bagai kecoak

Sisipkan satu
Di antara tali sepatu
Harapan yang teruntai perdu
Buatmu melangkah terpadu

Biar langit bergelora
Dan awan berarak peluh nestapa
Pesanku tetap sama serupa
Sisipkan satu yang kita punya

Kagetkan dunia
Bangunkan dia
Sisipkan satu yang mulia
Maka semuanya kan purna

Ah..., kau ulangi lagi jadinya....

Terkirim dari telepon Nokia E71 | www.legawa.com