Sabtu, 04 Desember 2010

Mencintai Tulisan

Saya termasuk orang suka menulis banyak, atau banyak menulis – ah itu sama saja. Orang kadang bertanya pada saya apakah saya tidak lelah menulis? Entahlah, saya sendiri juga tidak tahu, dari Bhyllanus, Manvahana, dan beberapa halaman lainnya saya menulis.

Saya rasa, saya hanya suka menulis, dan mungkin memang tidak harus berwujud sebuah blog. Kadang menulis di atas angin dan kemudian berhembus, hilang serta terlupakan, mungkin demikianlah saya mencintai tulisan.

Saya merasa tidak ada satu tulisan lebih bermakna dibandingkan tulisan lainnya, Jika yang satu bagus, maka bagi saya yang lain sama bagusnya, atau jika yang satu sampah, maka yang lain sama sampahnya. Orang bisa menilai dan mengukur sebuah tulisannya, sayangnya saya tidak cukup cerdas untuk itu. Saya hanya bisa mengukir dan kemudian membiarkannya berlalu bersama sang waktu.

Jika tulisan adalah bagian dari kehidupan, maka saya tak ingin menahannya jika ia hilang suatu saat nanti, sebagaimana sehelai tipis nyawa dalam rapuhnya raga saya ini.

Jumat, 12 November 2010

Ada Kepentingan

Kadang kita sangat mudah menuduhkan sesuatunya saat ini. Tidak bisa disalahkan, di saat krisis multidimensional melanda negeri ini, termasuk krisis kepercayaan di dalamnya. Kita bisa dengan mudah mengatakan tidak suka dan/atau tidak percaya pada pihak lain yang bahkan kita tidak memiliki dasar akan hal itu.

Misalnya saja banyak orang saat ini tidak dapat mempercayai kinerja pemerintah dan dewan rakyat yang (konon) terhormat. Karena sering kali tidak melihat kesungguhan mereka dalam menangkap aspirasi rakyat.

Tapi ada juga ketidakpercayaan pada profesi tertentu. Misal ada orang berkata, "Anda pasti punya kepentingan di balik itu, makanya saya tidak percaya orang-orang yang seprofesi seperti Anda ini."

Ya, siapa pun bisa terkena tuduhan ini. Pegawai pajak yang dikatakan menggelapkan pajak, lembaga pertanahan yang menggelapkan akte tanah, guru yang menjual buku dan menggadai kurikulum, dokter yang menjual resep, hingga pemborong yang menyunat bahan bangunan. Hingga Presiden Amerika Barack Obama pun tak lepas dari kecaman ini saat ia berkunjung ke negeri ini beberapa hari yang lalu.

Negeri ini penuh dengan kepercayaan, bahwa masing-masing pihak melihat pihak lain memiliki maksud tersembunyi di balik maksud yang diperlihatkannya. Hasilnya, inilah sebuah negeri yang tidak dapat percaya pada niat baik saudaranya sendiri.

Kamis, 04 November 2010

Kok Sempat Tawuran

Saya melihat di berita televisi bahwa dua kelompok mahasiswa pelayaran (mengadakan) tawuran kerena beberapa hal saja. Padahal negeri ini sedang menghadapi banyak masalah di sana-sini, belum lagi bencana alam yang mengguncang di beberapa wilayah.

Saya rasa kalau punya tenaga untuk tawuran, mengapa tidak sekalian saja jadi sukarelawan. Banyak hidup dan saudara yang masih memerlukan bantuan. Daripada saling tonjok mengapa tidak mengulurkan tangan pada saudara-saudara kita yang memerlukan?

Entah di mana kesadaran generasi penerus bangsa saat ini. Padahal mereka bergelar mahasiswa, dan bukan siswa lho, sungguh, tidak habis pikir saya.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Jalan Berseberangan

Manusia hidup sebagaimana jalan hidupnya, terserah apakah kita akan sebut itu sebagai takdir, pilihan atau hanya sekadar kebetulan belaka.

Seperti dedaunan di musim gugur, beberapa terlepas dari ranting dan cabang karena mereka memang sudah waktunya terlepas, dan beberapa terpaksa lepas karena tertiup angin pegunungan yang dingin.

Manusia dapat memilih jalan hidup bagi dirinya sendiri, namun kembali bahwasanya segala sesuatu selalu saling mempengaruhi di dunia ini. Saling tarik dan saling ulur.

Terkadang kita akan melintasi jalan yang berseberangan, di satu sisinya adalah kebahagiaan, sementara di sisi lain adalah kebalikannya. Tidak ada yang sesungguhnya bisa memaksa kita untuk mengambil salah satu jalan dan menjauhi jalan yang lainnya.

Manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan untuk memilih lagu kehidupannya, bagaimana ia mendendangkan kebebasannya, bersama-sama ataupun dalam langkah yang sepi.

Minggu, 17 Oktober 2010

Nasib Tikus Lab

Pernahkah ada yang membayangkan (jika tidak pernah melihat sendiri), apa yang terjadi pada tikus-tikus yang digunakan dalam percobaan di laboratorium penelitian pasca mereka tidak digunakan lagi? Apa mereka pergi ke rumah penampungan tikus terlantar? Ah, kurasa tidak.

Mereka dimusnahkan tentu saja, menurut kebanyakan sumber informasi, sesuai dengan prosedur baku yang ada di masing-masing instalasi. Tapi bagi yang tidak benar-benar tahu, pemusnahan ini tetap saja masih menjadi misteri.

Tikus putih sebagaimana yang sering kita saksikan di layar kaca adalah tikus lab yang sering kali sejak lahir sudah ditentukan nasibnya untuk jadi percobaan di laboratorium. Galur wistar misalnya, atau rattus norvegicus (konon berasal dari Chinna tapi diberi nama karena terlihat bersama bangsa Norwegia), paling umum jadi bahan percobaan.

Mereka tinggal menunggu nasib, apakah akan jadi percobaan obat, percobaan melihat perjalanan penyakit, atau yang cukup beruntung menjadi bahan uji tingkah laku. Bayangkan jika racun disuntikkan ke tikus itu dan kemudian membuatnya menjadi menderita kanker, baru kemudian dicoba diobati dengan obat yang sedang diteliti. Mereka kemudian berakhir di meja bedah, untuk diambil organ-organ dalamnya dan diteliti.

Beberapa yang melewati penelitian dan masih hidup setelah penelitian biasanya akan dimusnahkan.

Beberapa pagi yang lalu saya bertemu teman yang kenal dengan orang yang meniliti dengan wistar. Saya bertanya apa penelitiannya sudah selesai, dan apa yang terjadi dengan tikus-tikus penelitian itu. Ya, kalian mungkin sudah bisa menduga jawabannya.

Namun demikian dalam setiap penelitian menggunakan hewan. Peneliti wajib menghargai hak asasi hewan, karenanya penelitian dan tindakan invasif yang berpotensi menyakiti hewan dilakukan dengan metode khusus yang tidak akan terlalu menyakitinya.

Memberikan perhatian pada hewan lab juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah penelitian dengan hewan. Pun demikian prosedur keamanan baku tetap dituntut untuk diterapkan, sehingga pemusnahan tikus lab seringkali merupakan keharusan.

Jika tidak, mungkin mereka akan protes seperti dalam kisah kartun dari Worner Bross, di mana pingky dan brain - dua tikus lab yang berhasrat untuk menguasai dunia sebagai balas dendamnya.

Tikus lab sudah banyak berjasa atas pelbagai inovasi di dunia bioteknologi, farmasi dan kedokteran. Karenanya, bukan berarti hewan yang bisa disepelekan. We should be thankful.

Minggu, 10 Oktober 2010

Apa kita memang damai di dalam?

Dari dulu kita mendengar bahwa kedamaian mesti tercipta dulu di dalam diri seseorang agar ada kedamaian di dunia. Tapi kini kita perlu bertanya dulu, adakah kedamaian di dalam diri kita.

Tubuh kita dirancang lebih banyak bekerja sesuai dengan hukum alam, yaitu mengalahkan atau memunaskah kehidupan lain untuk tetap bertahan hidup. Bayangkan saja, tidak ada kuman - kecuali yang bersifat komensalisme yang akan diampuni oleh sistem pertahanan tubuh jika sudah masuk ke dalam tubuh manusia.

Reaksi pikiran kita juga tidak jauh berbeda. Kita mendirikan kastil pertahanan di sekitar ide dan kepercayaan kita, jangan sampai ada yang merusaknya. Jika ada keyakinan lain yang masuk ke dalam, maka kita bersiap untuk membasminya. Atau setidaknya kita bersiap menolaknya.

Kita - jauh di dalam diri kita, mungkin kita tidak pernah terbuka sepenuhnya pada kehidupan, kita tidak cukup rentan untuk disentuh kehidupan yang beragam rupa ini, kadang kita khawatir akan pergerakan ke sesuatu yang baru atau sesuatu yang tidak kita kenali.

Kita telah memisahkan antara manusia dan kehidupan itu sendiri. Maka mungkin bukan hanya tiadanya kedamaian di dalam diri kita, bahkan kita tidak memahami apa sesungguhnya kedamaian itu.

Jumat, 01 Oktober 2010

Menyalakan Pelita Hati

Engkau mungkin merasa dalam dunia yang begitu gelap. Tidak bisa melihat apapun, bahkan udara yang teraba pun terasa begitu hitam pekat. Hati bisa jadi hanya berkeliaran rasa gundah dan gelisah. Pikiran pun tak hendak duduk barang sejenak untuk diajak berbincang dengan santu sembari menikmati indahnya alam.

Dunia begitu gelap, maka dari itu engkau harus menyalakan pelita hatimu sendiri. Mungkin tak akan ada yang membantumu. Jangan khawatir, karena angin kekhawatiran akan menghebuskan pelitamu bahkan sebelum ia menyala.

Jangan ragu dan takut jika pelitamu tidak cukup terang. Karena cahaya hati tetaplah sebuah cahaya, dan sebuah cahaya tidak memerlukan lebih banyak cahaya untuk menjadikannya bercahaya.

Kegagalan Bukanlah Akhir

Baru saja diajak teman baik saya melihat salah satu penguman seleksi di sebuah perusahaan negara. Dan pada seleksi tahap akhir ini ternyata namanya tidak muncul dalam daftar yang diloloskan.

Perasaan pasti berat, saya sendiri merasakan berat, padahal berharap nama sudah muncul. Jika dianggap kegagalan, ini mungkin akan tambah berat lagi.

Tapi toh ini bukan akhir segalanya, hal ini hanyalah jembatan bagi kita untuk mulai melangkah lagi mengambil kesempatan lainnya. Saya senang melihat orang yang tidak menghentikan langkahnya dan meratapi kegagalan. Namun tetap berjalan.

Dalam kehidupan itu, ndak klop rasanya jika ndak pernah gagal. Karena hanya orang gagal-lah yang bisa menghargai keberhasilan itu dengan lebih baik. Jadi ini bukanlah akhir, bersiaplah untuk melangkah lagi.

Sepatu Tua di Sudut Kota

Sepatu tua di sudut kota
Berjalan di tanah lepuh dari bata
Bertiup pula si angin senja
Seakan pikul bebab jadi sirna

Gedung-gedung tua menatap langit
Di kakinya berkerumun ratusan ruang sempit
Seperti hati penghuninya yang selalu memandang sipit

Hati berhimpit mencari suaka
Keselamatan dalam jendela suka
Setidaknya tidak melarat dalam duka
Menepuk daun mengarak asa

Demikianlah manusia
Dengan sepatu tua di sudut kota.

Rabu, 29 September 2010

Agama itu ya damai

Orang berkata dan mungkin bertanya, mengapa sih orang mesti beragama? Jawaban umum yang berserakan di mana-mana, salah satunya ya guna menemukan kedamaian dalam hidup ini. Pun jawaban ini berserakan di mana-mana, berapa banyak yang tahu jawaban ini sungguh-sungguh merasa bahwa agama sudah membawa kedamaian?

Manusia selalu lebih mudah mencari perselisihan dibandingkan damai itu sendiri. Tidak peduli untuk hal-hal kecil ataupun hal-hal besar, manusia selalu ingin aku-nya diutamakan.

Jika Anda masih bisa berkata-kata kasar, mencerca, menghina pada lawan bicara - apalagi pada pembicaraan yang sopan. Ndak ada kesan damai sama sekali, masakah yang seperti itu dikatakan beragama? Saya jadi bingung kalau melihat hal-hal yang demikian.

Di satu sisi mengangungkan agama dan Tuhan, di sisi lain menghina dan merendahkan sesama manusia. Susahnya jadinya kalau yang begini berpapasan di jalan kehidupan saya.

Senin, 20 September 2010

Hari ini melenyapkan ratusan nyawa

Sedari pagi hujan terus mengguyur, mungkin tanah menjadi lembab, tampak ratusan ekor semut merah mulai naik ke lantai dan membangun sarangnya di sudut kamar. Tanpa pikir panjang kuambil semprotan anti serangga, dan nyawa ratusan semut itu pun melayang dalam hitungan detik.

Ah, aku tahu aku sadis, tidak usah berpura-pura. Demikian ratusan yang lainnya mulai mundur kembali, dan mencari rumah baru. Karena jika mereka hanya di sapu mereka akan kembali naik, sementara jika disemprot mereka tidak akan melewati daerah beracun dua kali. Serangga adalah mahluk hidup yang mampu bertahan hidup sejak ratusan juta tahun yang lalu, termasuk semut.

Di sekitar rumahku ada jutaan semut merah berkoloni, yah, mereka berguna bagi lingkungan sekitar, tapi begitu menginvasi, maka bendera perang berkirbar. I have no mercy for living things, since I am a heartless person.

Tapi manusia, sadar atau tidak, adalah penyebabnya matinya jutaan mahluk hidup lain setiap harinya, termasuk manusia itu sendiri.

Digg This

Kamis, 16 September 2010

Makan Nasi dengan Cumi

Ketika ditanya oleh kasir rumah makan saat akan membayar, maka seorang tamu menjawab, “saya makan nasi dengan cumi”… Lha, jika ada orang melihat anekdot ini dan usil, dia mungkin bertanya, “saya tidak lihat Anda sedang makan bersama cumi”.

Penggunaan kata hubung dalam bahasa Indonesia pun masih simpang siur dengan banyak salah kaprah. Yah, mau bagaimana lagi.

Digg This

Rabu, 08 September 2010

TI dan Komunikasi untuk Siswa?

Saya baru saja membuka-buka sebuah buku sekolah milik adik sepupu saya
yang berjudul "Teknologi Informasi dan Komunikasi" untuk SMP/MTs Kelas
VII.

Saya dulu semasa SMP tentu saja belum mendapat pengetahuan tentang
yang namanya teknologi informasi. Jika pun ada, paling hanya sebatas
mengenal komputer berbasis WordStar, dan itupun belajar atas inisiatif
sendiri, bukan kurikulum wajib.

Buku edisi kedua, yang terbit di tahun 2010 ini saya lihat masih
banyak kekurangannya.

Pertama, materi yang diberikan terlalu berlimpah. Untuk apa anak-anak
SMP tahu sejarah komputer, apakah itu begitu esensial, sampai sedetail
itu? Apa tidak ada sesuatu yang lebih aplikatif yang bisa menunjang
pendidikan mereka sendiri?

Kedua, materi terlalu condong untuk beberapa sisi saja. Misalnya,
contoh diberikan dengan menggunakan sistem operasi Windows XP yang
notabene sudah kedaluarsa di tahun ini. Bahkan sistem operasi
bersumber kode terbuka sama sekali tidak banyak terulas, seperti Linux
misalnya. Saya rasa jika ingin memerdekakan negeri ini dari
ketergantungan perangkat lunak, maka open source harus dikenalkan
secara dini pada anak-anak sekolahan.

--
Sent from my mobile device

Sincerely yours,

Cahya Legawa
www.legawa.com

Sekolah itu Digugu dan Ditiru?

Kemarin saya sempat pulang ke rumah di desa, dan bertemu keponakan
yang sudah memasuki tahun akhir di SMA. Saya ingin tahu ke mana dia
selanjutnya akan mencari. Seperti anak-anak pada umumnya, dia masih
bingung menentukan. Tapi yang jelas dia bilang, tidak ingin memasuki
jalur keguruan, tidak ingin menjadi guru, karena guru zaman sekarang -
katanya - lebih sering dihina murid daripada dipuji.

Kemudian saya berpikir apa benar demikian. Tapi saya rasa di mana-mana
selalu saja ada dua sisi yang bertentangan, satu mungkin yang baik dan
yang lainnya ya yang brengsek. Setiap dunia profesi memiliki warna
seperti itu.

Tapi mungkin juga saat ini, rusaknya negeri ini sudah merambah ke
dunia pendidikan. Komersialisasi dunia pendidikan ada di tengah-tengah
masyarakat sebagai bukti yang tidak terbantahkan, sebagai tanda bahwa
tempat melahirkan penerus negeri ini pun sudah ada yang terkorupsi.

Jangan kaget jika mendengar orang tua mengeluh bahwa sekolah
mewajibkan kegiatan ini dan itu - di luar kurikulum - dengan biaya
ekstra segini dan segitu.

Sekolah dan para guru seharusnya memiliki kompetensi untuk
berkreativitas dan melahirkan solusi pendidikan yang cerdas dan murah
serta menarik. Bukannya menjajakan sistem pendidikan siap pakai dengan
kerja sama mengandalkan kompetensi pihak ketiga.

Jadi murid dan orang tua murid mungkin tidak akan lagi mengeluh bahwa
mereka harus begini dan begitu yang sering kali tidak masuk akal
karena ulah sekolah yang terkesan mencari untung dan melakukan
komersialisasi pendidikan.

--
Sent from my mobile device

Sincerely yours,

Cahya Legawa
www.legawa.com

Selasa, 31 Agustus 2010

Sama dan Beda

Manusia itu mahkluk yang aneh, di satu sisi dia tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang-orang di sekitarnya, namun di sisi lain dia tidak mau disamakan dengan orang-orang di sekitarnya.

Mungkin inilah sifat dasar manusia yang dikenal sebagai eksklusifisme. Merasa dirinya memiliki nilai maupun keistimewaan tersendiri. Dan kadang saking parahnya, dalam pandangannya, keistimewaan itu menjadi sesuatu yang absolut dan tidak bisa ditawar-tawar.

Sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung, orang bisa kita lihat meminta perlakuan yang tersendiri, VIP treatment - jika orang Barat mengatakannya.

Apakah kita sungguh individu yang begitu istimewa sehingga menjadi kelas tersendiri dibandingkan yang lainnya?

Mungkin saatnya kita mengetuk jendela hati kita sendiri. Apa sesungguhnya makna persamaan dan perbedaan dalam kemanusiaan itu?

Minggu, 29 Agustus 2010

Gonggongan tangisan

Saat membeli sarapan tadi pagi di depan kos, sekitar pukul 2.30 pagi. Saya mendengar gonggongan anjing yang memilukan, makin berjalan mendekati halam depan suara itu terdengar makin jelas. [more]

Rupanya gonggongan itu berasal dari rumah kontrakkan di seberang gang, ada beberapa mahasiswa baru di sana, dan tampaknya mereka memelihara seekor anjing.

Saat saya keluar gerbang, saya lihat ibu penjual nasi untuk sahur ada di dekat sana. Rupanya anjing itu diikat terlalu pendek - dapat kulihat dia merengek di balik pagar, dan dia tidak bisa menjangkau air minumnya. Ibu penjual nasi juga memberinya sepotong lauk, karena tampaknya anjing itu sangat kelaparan. Setelah makan dan minum, barulah anjing itu terdiam.

Kelihatannya mudah, tapi punya peliharaan itu tidaklah sesederhana itu bukan.

[tags peliharaan, hewan, anjing, tanggung jawab]

Sabtu, 28 Agustus 2010

Kue Pukis Kesukaan

Beberapa hari yang lalu saya akhirnya bisa membeli kue pukis, ha ha…, karena sebagian besar yang jualan kue pukis di Jogja pada tutup saat bulan puasa, maka mencarinya di lokasi-lokasi terdekat juga agak sulit.

Dari keu-kue impor, saya lebih menyukai kue pukis yang buatan tradisional. Apalagi jika di dalamnya ada pelbagai bahan rahasia, kadang Anda tidak tahu jika akan mendapatkan potongan pisang manis di dalamnya.

Sayang, kue ini sekarang cukup mahal. Sekitar Rp 2.000,00 per biji, dibandingkan saya saat kecil dulu, hanya sekitar Rp 100,00 hingga Rp 300,00 per biji (inflasi negeri ini memang gila). Tapi yang namanya sudah suka, seperti Doraemon yang menyukai Dorayaki, saya juga menyukai kue pukis.

Nyam…, nyam…

Kue Pukis

Digg This

Kamis, 26 Agustus 2010

Adu kepala bukan berarti saling sundul

Beberapa orang sangat menyukai perdebatan, saya tidak tahu motifnya, namun jelas ada orang-orang yang menikmatinya. Bagi saya itu sih tidak masalah, selama dilakukan masih dalam tatanan yang sesuai.

Saya rasa berdebatpun memiliki seninya tersendiri. Kita berperang dengan argumentasi, mengadu ketajaman argumentasi. Seperti dunia pengadilan yang mengandalkan argumentasi terbaik dari masing-masing pihak.

Adu kepala mestinya dilakukan dengan kepala dingin, santun, terbuka, dan bijaksana. Adu argumentasi memerlukan suatu kematangan jiwa dan pemikiran, kebersediaan untuk duduk setara, tidak merasa paling hebat sendiri dan memandang rendah oposisi.

Jika tidak, maka adu argumentasi hanya akan jadi ajang saling sruduk membabi buta. Mulai dari melempar cemohan, hinaan, bahkan bisa sampai saling lembar batu dan golok di jalanan. Maka itu sudah bukan lagi adu argumentasi, tapi debat kusir yang masuk panggung dramatisasi.

Selasa, 24 Agustus 2010

Pot Bunga dan Hujan

Sore ini hujan sangat deras mengguyur Yogyakarta. Langit yang biasanya terang berubah gelap. Udara pun menjadi sejuk seperti berada di kaki air terjun. Aku terduduk di beranda sesaat memerhatikan hujan, karena sudah lama aku tidak menikmati waktuku.

Aku melihat di kejauhan, dalam payung besar yang diguyur hujan, sosok yang sibuk memindahkan pot-pot bunga dan tanaman kebun. Ia memindahkannya ke tempat-tempat yang biasanya cukup teduh ke tempat yang dapat dengan bebas terguyur hujan.

Ya, manusia tidak dapat lupa bahwa ada hal-hal yang diperlukan oleh alam sekitarnya.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Permata Yang Terlupakan

Negeri ini banyak sekali memiliki permata yang tersebar di sana-sini, dan itu adalah putra-putrinya yang berkarya untuk negeri ini. Entah mengapa di media - televisi misalnya - selalu saja ada banyak berita tentang hal-hal buruk di negeri ini, bahkan lebih banyak hal-hal seputar gosip kehidupan selebritas. Tapi di manakah suara yang mengabarkan apa yang telah diberikan putra-putri negeri ini?

Mengangkat profil mereka yang berprestasi seharusnya bisa memberikan semangat dan cara pandang yang beragam bagi banyak orang. Sayangnya hal-hal seperti jarang terangkat. Atau mungkin saya yang tak pernah berjodoh dengan acara seperti ini jika muncul di televisi.

Narablog Agung Pushandaka menulis tentang hal ini juga di tulisan terbarunya di pushandaka.com. Mungkin memang benar pendapatnya, daripada ketika Istana Negara membagikan buku-buku tentang keluarga presiden ketika peringatan kemerdekaan Republik ini, mungkin lebih baik membagi buku tentang putra-putri negeri yang berprestasi dan yang mengabdi sehingga bisa menjadi cerminan dan contoh bagi banyak orang.

Orang tidak selalu berkarya hanya demi alasan semata-mata untuk dikenang, karena ada dorongan yang lebih kuat daripada hanya sekadar nama besar. Negeri ini masih memerlukan orang-orang seperti mereka, seperti permata yang terlupakan.

Kamis, 19 Agustus 2010

Aroma Kamar Berantakan

Hah..., sudah beberapa hari ini aku tidak membereskan kamar. Sekarang malang lebih mirip sarang daripada kamar. Hi Hi..., sepertinya memang sudah saatnya dibersihkan kembali.

Namun tunggu dulu, aku sebenarnya sayang kalau membersihkan dan merapikan kamarku. Kadang aroma kamar yang berantakan adalah segala yang baik yang bisa kulihat. Membiarkannya sekejap berantakan, dan melihatnya dengan seksama.

Kata orang kamar adalah cerminan penghuninya, mungkin kamarku sedang mencerminkan suasana hatiku. Mungkin ada yang tidak beres dalam diriku yang tidak kusadari.

Jadi aroma kamar yang berantakan kadang memberikanku kesempatan untuk melihat ke dalam diriku dengan lebih seksama.

Rabu, 18 Agustus 2010

Detak Arloji

Langit yang biru cerah, awas-awas tipis tersapu angin, udara yang masih cukup lembab, dan suara kicauan burung. Katanya manusia harus bisa melepas penatnya, walau aku tak begitu memahami maksudnya.

Kita adalah saksi rapuh yang hanyut dalam sungai waktu, sedemikian hingga setiap embusan napas bisa menjadi persinggahan terakhir sebelum merangkul peristirahatan abadi. Dan itu telah menjadi kewajaran dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Aku mendengar detak kecil dari arloji kecil di sisiku. Detak itu begitu jelas, seakan-akan dunia telah menghentikan segenap suaranya sedemikian hingga aku dapat mendengarkan detak ini. Dan aku tersadar, aku masih belum dapat menghentikan waktu dalam simpul senyumku yang melihat kebodohanku sendiri.

Tidak ada pertanyaan bodoh

Saya pernah dengar sebuah pernyataan yang mungkin berasal dari bahasa asing, seperti "Theres no stupid question!" - yang kurang lebih bermakna bahwa tidak ada pertanyaan yang cukup bodoh untuk diajukan.

Kalau dalam kata bijak orang tua dulu bilang, janganlah kita malu bertanya, atau kita akan tersesat di jalan. Ya, kita bertanya karena kita tidak tahu, dan jangan mempersepsikan bahwa ketidaktahuan itu identik dengan kebodohan.

Jika ketidaktahuan tidak diikuti dengan kesadaran untuk menyelidiki kebenaran akan hal yang tidak kita ketahui, atau katakan saja ketidatahuan yang sejalan bersama ketidakacuhan, niscaya itu akan jadi akar kebodohan.

Dan jangan juga mengidentikan bahwa pertanyaan berarti serta merta kita akan mendapat jawaban yang membuat kita berpindah dari sisi yang gelap ke sisi yang terang, karena respons dari pertanyaan belum tentu selalu mencerahkan.

Kadang pertanyaan akan menjadi batu lompatan menuju petunjuk-petunjuk yang dirangkai untuk menemukan jawaban dan kebenarannya. Atau dengan kata lain, respons terhadap pertanyaan awal bisa jadi melahirkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Pada akhirnya bergeraklah secara perlahan namun tetap waspada, awas terhadap situasi-situasi yang bisa memunculkan petunjuk.

Namun jika pertanyaan itu kemudian justru melahirkan kesemrawutan di mana-mana dan justru menjauhkan titik yang semestinya dituju, apakah kemudian itu pertanyaan bodoh?

No, there is no stupid question, just that you stupid enough to ask that kind of questin :D.

Apakah kita sudah merdeka?

Pagi ini terbangun dengan udara dingin menembus kulit, padahal angin sama sekali tidak bertiup. Aku bertanya-tanya tentang suatu hal yang mungkin selama ini terlewatkan oleh perhatianku yang semakin menumpul.

Hari ini, negeri ini telah memasuki usianya yang 65 tahun sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangan di bumi nusantara untuk yang pertama kalinya. Dan sejarah menunjukkan bahkan sejak pertama kali dikumandangkan itu negeri ini masih melalui banyak peristiwa berdarah yang tak kalah menyesakkan sukma dibandingkan ketika memproklamirkan kemerdekaan hanya sebagai cita dan asa belaka.

Kita generasi kita bisa dengan mudah mengucapkan kata dan pekik "MERDEKA" bahkan sembari bergurau pada rekan dan sahabatnya, sebuah kata yang dulu pernah menjadi tanda bahwa kematian bisa jadi sesuatu yang pasti jika para penjajah mendengar para pejuang kita mengucapkan kata-kata itu.

Ya, kita adalah generasi yang menikmati aroma bebas kemerdekaan yang telah ditukar oleh darah, tangis, dan kesedihan yang tak terkira oleh para pendahulu kita yang berjuang dengan penuh pengorbanan. Dan kini, adakah ini hanya menjadi ritualitas kenangan setiap tahun saja.

Kita konon adalah generasi di era kemerdekaan, namun buta dan tuli akan makna kemerdekaan itu sendiri, sementara sesumbar dengan berkata bahwa kita berjiwa nasionalis. Entahlah, saya tidak tahu.

Sungguhkah kita telah benar-benar merdeka, atau setidaknya merdeka dari kebodohan dan ketidakacuhan kita sendiri? Apa jawabnya?

Rabu, 11 Agustus 2010

Jenuh

Ada perasaan jenuh di sekitarku, rasanya seperti sesuatu yang lengket dan tidak hendak mengalir. Namun tidak hanya itu, ini seperti senja yang abadi ketika mendayung sampan di tengah lautan lumpur. Sesuatu yang membuat enggan untuk turun dari sampan, namun sama enggannya juga untuk melanjutkan mendayung.

Aku telah kehabisan kata-kata bahkan untuk menyemangati diriku sendiri. Ah, kadang ini menimbulkan warna kejengkelannya tersendiri. Aku hendak menertawakan diriku yang terbaring di atas sampan, memandang langit menjingga yang tak bisa kuraih kecuali melalui tatapan.

Aku tertinggal di batas kaki langit senja yang abadi, dan demikianlah dunia melukiskan kejenuhanku padanya.

Minggu, 08 Agustus 2010

Fast food?

Banyak yang menyukai fast food karena bisa disajikan dengan cepat, menghemat waktu, dan pas bagi kebanyakan selera orang-orang. Walau sudah jadi pandangan umum bahwa itu tidak menyehatkan, tapi banyak yang masih memilihnya.

Saya sendiri berusaha menghindarinya, makan sayuran dan tempe di warung tegal masih cukup nikmat, apalagi ada buahnya, wah, serasa memang hidup di negeri tropis.

Lalu kira-kira mengapa ya orang masih suka fast food?

Powered by Nokia Mail

Sabtu, 07 Agustus 2010

Kesimpulan atau Simpulan?

Saya ingat teguran oleh guru bahasa Indonesia kala zaman SMA dulu saat menggunakan kata ‘kesimpulan’ di akhir laporan saya, dan menurut beliau kata ‘simpulan’-lah yang lebih tepat.

Alasan untuk ini sama seperti yang disampaikan pada tulisan “Pemukiman atau Pemukiman?”. Karena melihat dari sisi bentukan kata, maka ‘simpulan’ adalah bentuk konsisten yang tepat.

Digg This

Jumat, 06 Agustus 2010

Gurauan Redenominasi Rupiah

Siapa yang belum mendengar isu redenominasi rupiah? Ah, sudah lebih dari sebulan isu ini bergulir, walau sekarang sepertinya terdengar lebih santer lagi. Walau saya - tentu saja - paham apa itu redenominasi sebagaimana yang disampaikan (pura-pura pintar, padahal ndak), namun ada beberapa yang menggelitik bagi saya.

Karena jika redenominasi benar-benar diterapkan sebagaimana wacana, maka harga-harga barang dan jasa akan mirip sekali seperti tempo dulu. Sepiring nasi komplit yang saat ini Rp 5.000,00 akan jadi hanya Rp 5,00. Jadi teringat dengan beberapa koin uang logam lama senilai Rp 5,00 yang masih saya simpan. Seandainya itu bisa digunakan lagi pastinya orang bisa kaya mendadak (ha ha, mimpi mungkin).

Tapi jika tidak salah, inflasi yang terkendali menjadi salah satu kunci utama keberhasilan pelaksaanaan redenumerisasi. Kalau inflasi terkendali, maka itu akan mencegah efek sia-sia jangka panjang untuk redenumerisasi. Bayangkan saja kalau setelah dimulainya redenumerisasi inflasi melambung tinggi, dan barang yang sudah jadi Rp 5,00 dalam sepuluh tahun jadi senilai Rp 50,00 atau bahkan Rp 500,00 - nah kalau sudah begitu kan sia-sia saja redenumerisasinya.

Apalagi sekarang pada hobi menaikan harga barang dan jasa, tarif dasar listrik-lah, tarif tol-lah, dan lain sebagainya. Padahal rakyat belum tentu sanggup.

Dan tentunya yang juga tidak boleh dilupakan adalah penyediaan pecahan yang terkecil secara merata. Ingat kan di pelbagai tempat saat ini di Indonesia, bahwa ada tempat belanja yang memberikan kembalian berupa permen dan bukannya uang recehan dengan alasan tidak tersedia uang receh.

Pokoknya masih banyak yang harus dipersiapkan dipersiapkan.

Hindari Swalayan Saat Keroncongan

Ini adalah apa yang terjadi pada saya beberapa hari yang lalu. Siang itu saya hendak pergi mencari beberapa keperluan sehari-hari di salah satu pasar swalayan terdekat. Sebenarnya saya sudah lumayan merasa lapar saat itu, namun saya memutuskan menunda dulu makan siang saya sampai selesai belanja, toh belanja tidak akan lama pikir saya.

Dan memang tidak perlu waktu lama untuk belanja bagi saya, memang berapa banyak sih keperluan cowok itu tiap bulannya, paling perlengkapan mandi dan kamar saja. Karena saya tidak memasak di rumah jadi seputar dapur bisa diabaikan.

Namun alangkah kagetnya saya setibanya di kassa saat akan melakukan pembayaran. Saya melihat keranjang saya penuh dengan camilan - lebih banyak dari barang yang ingin saya beli. Rupanya setengah sadar karena rasa lapar, saya keenakan melirik-lirik banyak camilan dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Tapi sudah terlanjur, saya beli saja, walau sebenarnya saya ingin membeli kue pukis kesukaan saya, tapi sayangnya, hal itu mesti ditunda terlebih dahulu, karena pengeluaran untuk ini saja sudah cukup banyak.

Lain kali mungkin sebaiknya saya tidak pergi ke pasar swalayan saat sedang kelaparan, bahaya tak terduga bisa saja terjadi, terutama bahaya untuk isi dompet saya, he he.

Selasa, 03 Agustus 2010

Wakil Rakyat

Sekarang rakyat pada bingung, lha bagaimana tidak bingung, masalah di masyarakat makin banyak. Mulai dari tabung gas yang meledak di mana-mana, harga melambung sejak TDL dinaikan (bahkan penjual burjo di tikungan sebelah bilang kalau cabe hijau sekarang mencapai Rp 50.000,00 sekilonya), warga yang terancam keamanannya karena ormas yang menggila - entah sudah damai atau hanya gencatan senjata semata.

Tentu saja permasalahan rakyat yang klasik lainnya, yang terlalu banyak untuk disebutkan bahkan untuk dipikirkan. Rakyat ingin sekali mengeluh, dan tentunya keluhan yang didengar oleh orang-orang yang konon memegang kuasa atas pemerintahan berdasarkan kepentingan rakyat itu sendiri. Konon dikisahkan bahwa jika rakyat mengeluh, maka perpanjangan lidah rakyat akan menjadi ujung tombaknya - mereka yang disebut sebagai wakil rakyat.

Wakil rakyat konon juga adalah orang-orang pilihan rakyat untuk memperjuangkan nasib mereka agar tidak ditekan oleh pihak-pihak yang memiliki kuasa, agar rakyat dapat hidup tanpa takut hak-haknya sebagai warga negara dikebiri.

Tapi kini, di mana-mana muncul krisis kepercayaan rakyat pada wakil-wakilnya. Di saat rakyat mengeluh, apa masih akan didengarkan. Lha wong satu kasus yang konon adalah perugian negara oleh sebuah bank dan beberapa pejabat negara saja sampai saat ini tidak jelas duduk perkara dan penyelesaiannya. Kalau satu masalah besar saja belum bisa diselesaikan, bagaimana dengan masalah yang lainnya. Apa jadinya rakyat yang ingin mengadu masalah-masalah yang mungkin akan dibilang hanya masalah kecil saja.

Wakil rakyat..., apa sebenarnya ada yang disebut wakil rakyat?

Senin, 02 Agustus 2010

Sepak Bola Suram

Saya tidak mengikuti perkembang persepakbolaan nasional, tapi sekilas menonton - jika tidak salah - final liga Indonesia semalam sungguh membuat saya lebih tidak ingin lagi memberi perhatian pada hal ini.

Entah kenapa rasanya malu dan kecewa itu bercampur, dan pada akhirnya menjadi ketidakacuhan. Lebih baik tidak usah memikirkan hal itu, tidak ada gunanya - mungkin itu yang terlintas di benak saja.

Uang banyak terbuang untuk mempertunjukkan tontonan yang menyedihkan. Lebih baik digunakan untuk membantu banyak rakyat yang kesusahan, menciptakan lapangan kerja, dan mewujudkan kesehatan bagi semua.

Masih ada banyak duka di negeri ini. Kalau hanya ingin bersenang-senang dengan sepak bola suram, mungkin sebaiknya saya tidak usah ikut campur saja.

Minggu, 25 Juli 2010

Di antara 2 Awan

Apakah engkau tahu awan putih yang menghiasi langit biru ketika siang menerpa bumi dengan dihantarkan sinar mentari baik pada daratan maupun perairan. Manusia bagaikan mahluk mungil yang bahkan tak mampu menangkap betapa luasnya angkasa. Dan melihat betapa besarnya gumpalan-gumpalan putih di atas sana yang kita sebut awan.

Kita sering menyebutnya awan yang berarak, atau pun awan yang saling mengisi. Berbagai jenis awan dikenal oleh manusia dengan melihat pola-polanya. Namun apakah yang sesungguhnya ada di antara dua awan? Pernahkah seseorang menyelaminya?

Kita hanya melihat bentuk, namun tidak esensi alam ini, karena itulah kita gemar melakukan eksploitasi sedemikian hingga kita dapat hidup nyaman. Tapi kita mungkin sama sekali tidak mengenal alam ini.

Jadi apakah yang ada di antara dua awan? Dapatkah seseorang menjawabnya?

Tentu saja untuk menjawab ini, orang harus menemukan sesuatu yang lebih sederhana terlebih dahulu. Dapatkah orang menemukan "sebuah awan" sama sekali?

Ah, kurasa jika hanya sekadar bentuk tanpa esensi, itu akan menjadi sangat mudah.

Senin, 12 Juli 2010

Perbincangan dengan Dalai Lama

Siang ini saya berkesempatan mengikuti perbincangan dengan Dalai Lama - pimpinan spiritual masyarakat Tibetan Budhis - yang pasti sudah dikenal hingga ke pelosok dunia. Sejak serbuan China ke Tibet, Dalai Lama tinggal di lokasi yang disebut Little Lasha di India Utara tahun 1959 saat suaka disetujui oleh Perdana Menteri Nehru ketika itu.

Little Lasha berubah menjadi kota kecil dengan nuansa Tibet yang saya kental. Penduduk Tibet di "pengasingan" demikian dunia menyebutnya, membawa dan menghidupkan kebudayaan mereka di sini. Dan di sinilah Dalai Lama telah tinggal hampir selama 50 tahun.

Perbincangan dengan Dalai Lama kali ini saya ikuti dari sebuah program di salah satu televisi swasta nasional, di mana pembawa acara mengunjungi langsung Dalai Lama di Liittle Lasha untuk melakukan wawancara eksklusif.

Pesannya tidak berubah sejak dulu, tentang kedamaian dan kebijaksanaan. Ia bagai inspirasi banyak orang di muka di bumi. Namun dalam kesederhanaannya, Beliau selalu berkata bahwa ia hanyalah seorang manusia biasa, hanya saja dalam usia yang cukup senja dan setelah melewati kehidupan dengan banyak masalah, mungkin beberapa pengalamannya dapat bermanfaat bagi beberapa orang yang mendapatkan masalah yang serupa.

Ia berpesan bahwa manusia harus bisa mengembangkan kasih sayang yang tak terbatas dalam diri masing-masing, karena pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang sama untuk melahirkan kasih sayang dalam dirinya untuk semua bentuk kehidupan.

Sederhananya, karena sebuah batin yang penuh kasih sayang saja yang tidak akan dipengaruhi oleh amarah, di mana amarah akan memunculkan kebencian dan kebencian melahirkan konflik.

Banyak pesan Beliau yang lain, namun tak bisa saya sampaikan satu per satu di sini.

Jumat, 09 Juli 2010

Uang Tutup Mulut untuk Seniman Jalanan?

Beberapa saat yang lalu, saya menikmati makan siang di sebuah warung kecil. Baru beberapa suapan tiba-tiba terdengar suara khas sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana, diimbangi dengan tembang lokal dari salah satunya.

Mereka bisa dikatakan "pengamen" tradisional, seniman jalanan, atau mereka yang mempertujukkan seni untuk sesuap nasi - terserah bagi Anda untuk memberikannya sebutan.

Belum ada beberapa saat tembang mengalun pelan di udara siang yang sedikit teduh setelah hujan turun barusan. Saya melihat penjaga warung buru-buru mengambil uang receh dan menyerahkannya pada salah satu dari mereka. Dan musik serta tembang pun berhenti dengan ucapan terima kasih, sementara para seniman jalanan itu terus berjalan ke rumah atau warung berikut yang mungkin mereka temukan.

Bukan apa-apa, hanya saja terlintas dalam pikiran saya bahwa receh yang diserahkan oleh pemilik warung seakan-akan merupakan uang tutup mulut, agar suara-suara itu berhenti dan sumbernya segera pergi, dan penerima pun setelah mendapatkan uang tutup mulutnya segera pergi berlalu.

Apakah memang seperti itu dunia di sekitar kita. Ketika kehidupan sulit, orang mulai mencari berbagai cara untuk tetap bertahan hidup, pendapatan dari uang tutup mulut mungkin pahit ditelan, dan tidak banyak mengenyangkan.

Tidakkah ada cara mengakomodasi kemampuan dan apa yang mereka miliki dalam bingkisan yang berbeda? Tapi apa bisa dunia ini diubah sedemikian rupa, sehingga setiap orang benar-benar berhak atas kehidupan yang setara.

Sebuah kemanusiaan yang bisa melihat kemanusiaan dalam tiap individu yang tidak lagi berlabel.
Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Rabu, 07 Juli 2010

Ide Cemerlang Untuk Kekhawatiran

Aku seringkali memerhatikan diriku tanpa banyak pertimbangan. Kadang aku menemukan diriku dalam berbagai masalah, dan tentu saja menurut pemikiran normal kebanyakan orang, masalah ini harus dipecahkan.

Sebenarnya, aku menemukan pada awal setiap kali pemikiran akan masalah-masalahku, di sana ada sesuatu yang kebanyakan orang sebut kekhawatiran. Dan kekhawatiran ini bekerja seperti surya kanta, ia akan menampakkan masalah jauh lebih besar daripada yang sewajarnya. Atau bahkan ia bisa menampakkan masalah yang mungkin sebenarnya tidak ada dalam kenyataannya.

Jadi sebelum saya melanjutkan apa yang saya pikirkan tentang hal ini. Mari kita renungan dulu apakah ada sebuah ide cermerlang akan kekhawatiran kita?

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Cinta Lama Bersemi Kembali?

Kadang manusia itu aneh ya, atau mungkin karena kita kurang memahami sesama kita? Misalnya dalam salah satu ungkapan, cinta lama bersemi kembali.

Ya ..., saya tahu itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ada perasaan suka yang dulu pernah ada kemudian terputus dan sekarang muncul kembali. Menyampingkan apapun alasan dibalik hilangnya hubungan antara dua hati ini dulunya, maka hal-hal seperti ini cukup sering kita jumpai.

Tapi pernahkah kita bertanya, cinta itu seperti apa? Apa bisa hilang dan kemudian muncul lagi begitu saja? Apa dia seperti ego manusia yang disaat perlu atau ingin akan muncul, dan di sisi lain ketika tidak perlu akan hilang?

Ataukah cinta sesuatu yang lebih misterius dari semua itu. Jika seseorang tidak memahami cinta, bagaimana ia bisa mengatakan bahwa cinta bersemi kembali? Apakah pernah menyelidiki sebelum melontarkan pernyataan bahwa itu memang cinta yang hadir kembali?

Manusia suka menggunakan kata cinta seenak hatinya. Tapi dengan begitu mungkin beberapa di antaranya bisa memupus kerinduan akan perasaan yang tidak pernah sungguh-sungguh mereka temukan di dalam hidup ini.

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Minggu, 27 Juni 2010

Jika Aku Berdiam

Dalam banyak kesempatan biasanya aku hanya berdiam, walau banyak dari orang-orang akan berlari meraih kesempatan itu. Tapi apa yang saya lihat bukan semuanya untuk apa yang ada jauh di hadapan saya. Namun apa-apa yang ada di sekitar saya.

Pernahkah seseorang mengikuti lomba lari lintas alam? Sayang sekali jika yang ada di pikiran hanya garis akhir dan hadiah yang mungkin dimenangkan bukan? Apakah kita tidak sempat melihat apa yang ada di sekitar kita ketika lomba lari itu?

Apakah kita melihat awan-awan yang bergumul di langit cerah, ranting dan dedaunan hijau yang tertiup angin lemah, gemericik air di sungai-sungai kecil, atau pun bentangan persawahan rakyat.

Apakah kita melihat ada seorang anak kecil yang terjatuh dari sepedanya, dan terluka. Apakah kita mendengar suara tangisannya? Apakah kemudian kaki kita terus berlari dan barlalu? Ataukah kita akan hadir sebagai kata penghiburan bagi tubuh kecil yang terluka dan malang itu dan meredakan tangis dan sakitnya?

Kita mungkin memiliki tujuan yang ada jauh di depan, namun ada hal-hal di sekitar kita, kecil mungkin dalam pandangan beberapa orang. Namun itu semua juga bagian dari kehidupan. Saya sering kali terdiam, karena jika saya bergerak, mungkin saja ada bagian dari kehidupan yang terlewatkan.

Senin, 21 Juni 2010

Dunia Yang Luas

Kurasa setiap langit sore yang cerah dapat membuat hatiku cukup terlepas jauh ke dalam kedalamannya sendiri. Aku bisa berhenti bertanya, dan hanya memandang dengan segenap hatiku.

Sudah lama aku sering tidak memedulikan perasaanku sendiri, mengubur diri dalam menjawab semua pertanyaan yang bahkan setelah terjawab akan dipertanyakan kembali.

Dunia ini luas, selalu dapat kusaksikan melalui langit sore yang membentang menyejukkan setiap relung perasaan dan menjadikan setiap asa berhenti meraung dalam kegelisahannya.

Dunia ini luas, banyak hal yang dapat ditemukan seorang insan di dalamnya. Bahkan hal-hal yang telah lama hilang. Sayangnya aku adalah seluruh keras kepala yang diperlukan untuk memunculkan kesempatan kedua. Bahkan tiada juga kuberikan pada diriku.

Dunia ini luas, namun aku telah berhasil menyempitkannya dalam ruang pikirku yang terlalu miskin.

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com | Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Minggu, 20 Juni 2010

Mencoba Publikasi Via Hotmail

Saya sekadar ingin tahu, apakah hotmail/livemail bisa melakukan publikasi ke blogger.com.

Mungkin pengiriman via surel ini adalah jawabannya :)

Sincerely yours,
Cahya

Homepage: http://legawa.com |
Blog: http://catatan.legawa.com | Twitter: @haridiva

Powered by Nokia Mail

Senin, 07 Juni 2010

Lagu Bungan Sandat

Saat membaca beberapa tulisan di blog Mbak Santi, jadinya teringat dengan lagu lama yang sering terdengar saat saya kecil, walau mungkin sekarang sudah tidak pernah terdengar lagi.

Lagu “Bungan Sandat” (dalam bahasa Indonesia berarti bunga Kenanga, latin: Cananga odorata) mungkin adalah lagu yang tercipta di era 70-an saat saya belum lahir, saya tidak begitu menyukai lagu pop termasuk pop Bali, namun mungkin lagu ini adalah pengecualian saya :D

Bungan Sandat

Walau demikian, saya mungkin tidak memiliki alasan pasti mengapa saya menyukai lagu ini :)

Digg This

Sabtu, 05 Juni 2010

Maafkan Aku Hutanku…

Malam ini aku menulis sambil meneteskan banyak air mata, ah…, itu mungkin tampak sangat konyol, dan yang lebih konyol lagi aku menghabiskan berlembar-lembar tisu untuk menyeka air mataku…

Padahal tisu-tisu itu diproduksi dari alam, dari hutan…

Ah…, aku merasa sangat bersalah karena sudah menghabiskan sekian banyak pemborosan untuk alam ini. Padahal, seharusnya aku membantu menghemat pemakaian sumber daya alam, dasar memang tidak berguna.

Aku rasa aku harus tumbuh lebih kuat lagi, karena perasaanku masih sangat rapuh, walau mungkin celaka karena ternyata masa pertumbuhanku sudah habis waktunya kali ini…, ah…, bikin tambah rumitnya…

Tapi inilah enigmaku yang konyol…

Atau sebaiknya lain kali aku sediakan sapu tangan saja ya…

Digg This

Selasa, 01 Juni 2010

Sisipkan Satu

Aku tak pandai berpantun
Tak juga bersyair
Tangan-tanganku kosong
Seperti juga bait yang melompong

Mengapa ada harus
Ketika engkau tak suka
Apa hidup mesti ikut arus?
Walau kita tak pinta

Sajak itu jadinya hanya sepatu kuda
Ia selalu bilang sisipkan satu
Lebih parah lagi kaca mata kuda
Bagai pandangan selalu terpaku

Ah..., kau hendak berteriak
Tapi lidah bak terlindas gerobak
Tak sanggup bicara tentang akhlak
Hidup kotor bagai kecoak

Sisipkan satu
Di antara tali sepatu
Harapan yang teruntai perdu
Buatmu melangkah terpadu

Biar langit bergelora
Dan awan berarak peluh nestapa
Pesanku tetap sama serupa
Sisipkan satu yang kita punya

Kagetkan dunia
Bangunkan dia
Sisipkan satu yang mulia
Maka semuanya kan purna

Ah..., kau ulangi lagi jadinya....

Terkirim dari telepon Nokia E71 | www.legawa.com

Minggu, 30 Mei 2010

Dunia Yang Mendengarkan

Manusia itu aneh, ada kalanya ia ingin berteriak ke segenap penjuru dunia, namun ia tak ingin dunia mendengarkannya. Atau ia ingin dunia mendengakannya, namun tanpa ia perlu bersuara sedikit pun.

Ya, jika aku adalah duniaku, maka aku ingin dunia mendengarkanku, namun aku tak sampaikan apa-pun. Di saat aku ingin menyampaikan sesuatu pada diriku, kadang justru aku tak ingin mendengarkannya sama sekali.

Aku terbiasa berjalan sendiri, dan seluruh kesendirian itu adalah duniaku.

Terkirim dari telepon Nokia E71 | www.legawa.com

Inilah Mengapa Saya Tidak Suka Spam

SIERRA MADRE, CA - MAY 29:  Seventieth anniver...

Image by Getty Images via @daylife

Belum ada seminggu memasang AntiSpam Bee dan Akismet bersamaan sebagai substitusi terhadap WP-spam free. Kini daftar spam yang masuk di Bhyllabus sudah hampir seribu. Kalau tidak terpaksa seperti ini (dibuat terpaksa kejam oleh banyaknya spam), saya pasti memberikan sedikit kelonggaran di borang komentar.

Ah…, daripada makan spam, mending makan ham (tapi saya lebih suka menu vegetarian). Lagi pula apa sih enaknya nyepam di blog yang ndak terkenal sama sekali, ndak punya pagerank, ngiklan pun sepertinya sia-sia

Tapi saya akan mengamankan borang komentar sebisanya, jika perlu menggunakan lagi CAPTCHA.

Spam Count on Bhyllabus

Reblog this post [with Zemanta]

Digg This

Custom Menu – Fitur Baru Wordpress.Com

Wordpress-logo

Image via Wikipedia

Apakah Anda pernah mendengar sekelompok keriuhan di web akhir-akhir ini tentang rilis mendatang versi Wordpress 3.0? Aku tahu aku punya, dan selalu  enyenangkan untuk mendengar apa yang orang katakan ketika kita mendekati rilis ke arah , meskipun, Anda tidak perlu menunggu! Kami bergabung dalam fitur-fitur baru yang sudah siap, sehingga setiap salah satu dari Anda mendapat akses dini untuk fitur yang penguji beta hanya menggunakan di seluruh dunia. Yay, benar?

Jumat, 28 Mei 2010

Terjemahan “Comment Threading”

Mungkin kita tahu bahwa banyak sistem komentar saat ini menggunakan “comment threading” yang memudahkan untuk diskusi dalam sebuah blog.

Saat saya bekerja dengan penerjemahan tema blog, saya kesulitan menukan istilah yang tepat untuk frase yang satu ini. Namun ada beberapa hal yang bisa saya tetapkan (sementara).

Ada dua frase yang saya ajukan untuk ini:

  1. Galur tanggapan;
  2. Untai tanggapan;

Saya lebih suka menggunakan kata “tanggapan” daripada "komentar” untuk menerjemahkan kata “comment” karena kata itu lebih asli Indonesia dibandingkan dengan kata “komentar” yang merupakan bentuk serapan.

“Galur” saya rasakan lebih tepat daripada “untai” karena lebih menunjukkan urutan “kelahiran” komentar.

Jadi sementara terjemahan untuk “comment threading” adalah “galur tanggapan”

Digg This

FeedCat Sebagai Alternatif Feedburner

Baru pertama kali nge-blog dan masih bingung memilih pembakar umpan sindikasi (RSS Feed) yang cocok? Ya memang feedburner mungkin adalah salah satu yang paling bagus yang ada saat ini. Namun setelan yang disediakan kadang kurang interaktif bahkan terlalu rumit bagi beberapa orang.

Ada alternatif lain yang mungkin bisa dipilih. Itu adalah FeedCat dari feedcat.net, bahkan kelebihannya adalah menyediakan halaman feed (bukan halaman setelan lho) yang berbahasa Indonesia, tampilan feed kita-pun akan lebih segar dan menarik.

Ini salah satu gambarnya yang bisa saya contohkan:

Feedcat for Bhyllabus

Silakan klik gambar untuk melihat halaman asli. Setelah halaman aslinya, jika Anda tertarik silakan turun ke pojok bawah kanan halaman, dan klik logo Feedcat.Net yang ada di situ untuk mendaftar. Atau langsung saja ke situsnya.

Selamat mencoba!

Digg This

Kamis, 27 Mei 2010

Menguji GeSHi

Ini adalah tulisan untuk menguji General Syntax Hightliter dengan contoh elemen CSS Pullquote dari The Erudite.

Jumat, 14 Mei 2010

Prihatin Dengan Acara Kuliner?

Jika saya saksikan sebuah acara kuliner di televisi. Dibawakan oleh seorang anak kecil yang tampak melahap nikmat satu porsi ayam bakar ukuran besar. Yah, memang sih sedap dipandang, siapa yang tidak tergiur dengan ayam bakar presto misalnya.

Tapi jika saya mengingat lagi, biasanya satu porsi ayam utuh di rumah bisa untuk lauk makan kami sekeluarga (4 orang), untuk satu hari, atau bahkan dua hari. Jadi satu ayam bisa untuk lauk sekitar 2 lusin porsi makan.

Saya rasa, atau dalam opini saya. Seharusnya televisi bisa mengedukasi masyarakat untuk hidup sehat dan sederhana. Jika besok setiap anak minta satu ekor ayam untuk dimakan sendiri dalam satu porsi, rasanya itu mengajarkan anak-anak menuntut pemborosan sumber daya alam kita. Bukankah beternak ayam juga memerlukan sumber daya alam.

Ah..., ini hanya unek-unek saja.

Terkirim dari telepon Nokia E71 | www.legawa.com

Kamis, 06 Mei 2010

Bergerak Hingga Di Ujung Lelah

Sering kali aku memaksa tubuhku untuk mengejar sesuatu, baik itu memang penting atau pun tidak penting. Bahkan hingga rasanya lelah itu sudah tidak dapat tertahan lagi. Walau aku tahu aku belum tentu bekerja sekeras orang-orang yang disebut pekerja kasar atau semrawutan, mereka bahkan mengeluarkan energi jauhan kali lebih banyak dariku sebelum benar-benar kelelahan.

Tubuhku memang lemah. Tapi entah kenapa aku suka berlari hingga ke ujung lelah. Kadang aku bertanya, apa yang sesungguhnya kukejar? Jika merenungnya kembali, mungkin aku dapat mulai memelankan langkah dan melihat apa yang sesungguhnya hatiku harapakan.

Terkirim dari telepon Nokia E71 | www.legawa.com

Rabu, 05 Mei 2010

Bayangkan Sejuta Pertanyaan

Bagiku dunia adalah enigma raksasa, tentu saja itu termasuk aku di dalamnya. Kemudian terpecah-pecah kembali menjadi duniaku dan duniamu, ada dunia dalam setiap diri orang. Dan demikianlah sebuah enigma raksasa menjadi sangat kompleks.

Bayangkan sejuta pertanyaan, bagaimana kita akan menjawabnya. Tidak..., tidak..., jangan terburu-buru untuk menjawab. Mereka hanyalah pernak-pernik indah yang menghiasi kehidupan kita, walau beberapa di antaranya tampak suram.

Tidak pernah ada jaminan bahwa ketika mengungkap satu enigma maka yang lain akan ikut terungkap, atau tidak akan muncul enigma lainnya. Tapi kurasa itu bukanlah yang selayaknya membuat orang berhenti bertanya.

Karena setiap pertanyaan akan kehidupan layak untuk diselami, sehingga orang bisa memahami pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh.

Terkirim dari telepon Nokia E71 | www.legawa.com

Enigma

Enigma adalah segala pertanyaanku untuk apa-pun, aku tak selalu menuntut jawaban, karena enigma membuatku belajar akan banyak hal...

Jadi inilah enigma bodohku...